Friday, 26 February 2016

Cerpen Petualangan


Ini Cerpen saya. silakan, bila tertarik monggo dibaca dan bila berkenan monggo di +1

Petualangan si Semut Pemberani
Tyogo | Anjasmoro

            Di suatu kota di pulau Jawa, yang bernama Bandung, seekor serangga baru saja dilahirkan di atap rumah seorang Ibu yang bernama Windu. Di siang hari itu, seekor semut kecil yang bernama Saras, melahirkan putra yang akan menjadi penerus tahta kerajaan semut yang dipimpin oleh ayahnya. Putra Saras itu bernama Pentop. Ayah Pentop adalah seekor raja semut dan ibunya adalah ratu semut yang sangat kaya raya namun baik hati. Pentop adalah semut ringkih dan penakut saat ia masih kecil. Tetapi itu semua tidak menjadi masalah untuk Pentop, karena semakin bertambah besar dia semakin kuat dan berani.
Setelah berumur 4 bulan, Pentop pun mulai disekolahkan oleh kedua orangtuanya di Sekolah Dasar Serangga 01 Dago, di Jln. Ir. H. Djuanda. Di sekolah, Pentop mempunyai sahabat yang bernama Ent, Unt, dan Int. Mereka adalah lebah bersaudara. Mereka bersahabat karib dan tiap hari selalu bermain bersama. Mereka pun selalu saling membantu dalam setiap kesulitan kecil di sekolah.
Setelah lulus dari SDS 01 Dago, Pentop, Ent, Unt dan Int melanjutkan ke sekolah lanjutan yang berbeda karena keluarga mereka pindah rumah. Pentop bersekolah di SMPS 01 Dago, sedangkan ketiga sahabatnya bersekolah di SMPS Surya Kencana. Sejak itu mereka tidak pernah bertemu lagi, tetapi Pentop masih tetap berhubungan dengan ketiga sahabatnya. Beberapa lama kemudian Pentop pun lulus kuliah. Ia meninggalkan orangtuanya dan pergi merantau untuk mencari pekerjaan.
             Pentop bekerja sebagai manager di sebuah perusahaan kecil yang bergerak dibidang kerajinan kayu. Tetapi sehari sesudah ia mulai bekerja di perusahaan itu, Pentop mendapat kabar dari pesuruh ayahnya yang bernama Pent, bahwa ibunya telah mati karena terinjak oleh manusia. Pentop pun terkejut dan menangis tersedu-sedu. Bersama dengan Pent, ia segera pulang ke kerajaan ayah dan ibunya. Sesampainya di kerajaan, Pentop melihat semua semut sedang berduka karena kematian ratunya. Pentop pun bertambah sedih. Sepeninggalan Ratu Saras, raja dan semua semut di kerajaan menjadi tak bersemangat dan putus asa. Hal itu disebabkan mereka merasa sangat kehilangan. Lama-lama kerajaan itu jatuh miskin karena semua semut tidak lagi mau pergi bekerja.
            Melihat keadaan di kerajaan ayahnya, Pentop pun bangkit dari kesedihan dan mencari akal untuk menyelamatkan kerajaan tersebut. Setelah berpikir matang-matang, ia mendapatkan ide untuk mencari dan menemukan ketiga sahabat lamanya agar mendapat bantuan dari mereka. Pentop pun meminjam telepon ayahnya untuk menelepon Unt sahabatnya. Pentop berencana meminjam uang pada Unt. Unt pun bersedia meminjamkan uang kepada Pentop. Kemudian Pentop meminta izin kepada ayahnya untuk pergi ke rumah Unt.
            Keesokan harinya setelah berkemas, Pentop memulai perjalanannya yang jauh untuk menemui Unt. Pentop pun pergi ke jalan Surya Kencana karena rumah baru Ent, Int, dan Unt di situ. Ia pergi melalui Kartika Sari yang sedang ramai. Ia pun sempat hampir terinjak karena kecerobohannya. yaitu Pentop sempat beristirahat di tengah trotoar. dan kemudian berlari sekencang mungkin, menzig-zag orang itu sampai aman. Ia pun sangat kelelahan dan berjalan pelan.Lalu ia pun sempat di kejar oleh geng semut jalanan di dekat Kartika Sari. Ia pun mengelak ke tepi selokan. Untung saja ia berhasil bersembunyi di tepi  selokan itu, karena kecerdasan dan kelincahannya. Akhirnya karena kelelahan Pentop bermalam di sebuah lubang tidak jauh dari Kartika Sari  Dago. Keesok harinya ia menyantap makanan yang dibawanya sebagai bekal dari kerajaan, lalu ia pun melanjutkan perjalanannya mencari Ent, Int, dan Unt. Ia berjalan terus dan sampai di daerah Rumah Sakit Borromeus. Di sana ia bertemu dengan salah satu sahabatnya, yaitu Ent, namun Ent tidak mengenali wajah Pentop yang sudah menjadi semut dewasa gagah dan tampan. Pentop pun menyapa sahabatnya tersebut, “Hai Ent, aku Pentop. Kamu masih ingat aku, tidak?” Ent terkejut dan kemudian mereka saling bersalaman. Lalu Ent mengajak Pentop ke rumahnya. Di rumah Ent mereka berdua saling melepas rindu dan menceritakan pengalaman masing-masing. Saat itu Int dan Unt tidak ada di rumah.
            Ketika sedang asyik bercakap-cakap, tiba-tiba telepon di kamar Ent berbunyi. Ent pun pamit kepada Pentop untuk mengangkat telepon itu di kamarnya. Sementara Pentop sedang menunggu di ruang tamu, tiba-tiba masuklah dua ekor lebah dewasa ke dalam rumah itu. Pentop langsung berdiri dan menyambut mereka. Namun ke dua lebah itu langsung menghindar karena tidak mengenali Pentop. Unt pun bertanya, “Siapa kamu, seenaknya mau memeluk kami?” Pentop pun menjawab, “Saya Pentop, sahabat kalian?” Lalu Int pun berkata, ”Pentop tidak seperti ini mukanya !” Lalu ia berkata lagi, “Mau apa kau kesini ?” Lalu Pentop pun berkata dengan jujur, “Aku ingin meminjam uang.” Unt dan Int pun kaget, masa serangga  tidak kenal mau langsung saja meminjam uang? Unt dan Int pun bermaksud untuk memasukkan Pentop ke kamar dan menguncinya. Tetapi untunglah Ent melihat kejadian itu dan mencegah tindakan jahat mereka. Dan Ent pun melerai mereka. Ia menjelaskan bahwa ini adalah Pentop dewasa, yang gagah. Lalu mereka pun meminta maaf kepada Pentop. Dan mereka juga akhirnya tidak jadi memasukkan Pentop ke dalam kamar dan menguncinya. Mereka pun bertemu kangen dan menanyakan untuk apa uang itu digunakan? Lalu Pentop pun menjawab, “Aku mau menyumbangkan uang untuk kerajaan ayahku yang hampir bangkrut, di Dago sana.” Pentop pun akhirnya dipinjami uang sebesar Rp 1.000.000 oleh Unt, Int, dan Ent. Dan ia pamit pulang ke kerajaannya.
Di perjalanan pulang, ia tiba-tiba kesakitan. Entah kenapa ia tidak bisa merasakan kaki-kakinya menapak di atas trotoar yang penuh debu itu. Ia pun terduduk di pinggir jalan dan pingsan. Saat terbangun, ia merasa ada hal yang tidak beres. Di situ banyak suara tertawa dan bercakap cakap. Pentop tersadar seratus persen sekarang. Ternyata ia ada di markas geng semut. Ia sudah diikat di suatu ruang kecil yang sesak dan bau. Untung saja ia membawa sebilah pisau kecil dan gunting dari kerajaan. Ia pun memilih pisau untuk memotong tali yang membuatnya sulit bernapas. Akhirnya ia berhasil melepaskan tali itu. Setelah itu, ia mencari jalan keluar dari ruangan itu. Akalnya  mulai berjalan. Ia memotong kunci pintu dan mendobraknya. Keberaniannya mulai teruji. Ia tidak lagi menjadi semut yang penakut lagi, Ia melawan rasa takutnya. Ia sekarang keluar menuju jalan secara diam-diam. Ia menelusuri jalan itu hingga keluar menujujalan raya, Dan ternyata ia keluar di Kartika Sari. Ia pun sempat makan kue yang terjatuh di jalan. Ia pun berkata, “Mengapa ya manusia tega membuang buang makanan baik seperti ini?” Ia pun berjalan pulang sambil berhati-hati, takut terinjak manusia lagi. Ia bersenandung di sepanjang perjalanannya sambil berpikir, rupanya diluar penuh tantangan dan cobaan mengapa semut-semut lain bisa bertahan hidup?
Saat ia sampai di pintu utama kerajaan ia menemui Pika, sang asisten kerajaanyang kebetulan melewati pintu itu. Ia melaporkan segala kejadian yang ia lakukan diluar sana kepadanya. Selang beberapa lama, ayah Pentop pun datang dan melepaskan kekhawatirannya kepada anak satu-satunya itu. Ia pun senang sekali sampai menitikkan air mata. Cemas sekaligus haru, karena anaknya yang sangat berbakti kepada orang tua. Dan tanpa lama-lama lagi Pentop pun menyerahkan uang yang dipinjam dari temannya pada ayahnya dan menceritakan pengalamannya ditangkap oleh geng semut. Ia pun menceritakan bagaimana ia menggunakan akal cerdasnya untuk keluar ke jalan raya. Ayahnya pun sangat bangga pada Pentop.
Akhirnya setelah beberapa tahun berselang, Pentop dan ayahnya bahagia, karena kerajaan itu menjadi makmur. Tidak lupa juga ayahnya tiap sebulan sekali mencicil uang utang ke keluarga Unt, Ent, dan Int dari hasil pekerjaan semua warga kerajaannya .
- TAMAT -

No comments:

Post a Comment