Saturday, 9 April 2016

Perjalanan

Halo namaku Tyogo... Di kesempatan kali ini saya akan membagikan pengalaman saya dalam melakukan live in, atau Nyaba Lembur, di Kampung Babakan Ranca, Kabupaten Bandung, Propinsi Jawa Barat.  

Kilas cerita, aku, teman-teman kelasku, dan juga tiga pendamping kami, pergi ke sebuah desa, disana kami melakukan banyak sekali kegiatan dan pelajaran berharga. Untuk itu, disana kami diberi tantangan, atau pun tugas. Kami juga mengulik berbagai macam informasi tentang daerah pinggiran, khususnya desa itu sendiri.

Untuk lebih lengkap, mangga dilihat catatan perjalananku ini... Jangan lupa di G+1 ya... Semoga bermanfaat dan memberi informasi lebih tentang desa...





NYABA LEMBUR 2016
Tyogo | Anjasmoro
Pada hari Selasa, tanggal 29 Maret 2016, kami teman-teman Anjasmoro beserta Kak Wienny, Kak Koben, dan Kak Steva pergi ke Kampung Babakan Ranca menggunakan angkot Cimindi-Sederhana, dengan cara menyewa angkot itu. Sebelumnya kami melakukan pertemuan dulu di sekolah Semi Palar, dan berangkat pada pukul 08.00. Kami semua sangat antusias mengikuti acara tersebut. Di angkot, kami bermain, bercerita, bercanda, sampai kami juga ada yang tidur di angkot, termasuk aku. Kami melewati Gerbang Tol Pasteur, dan keluar di Gerbang Tol Moh. Toha, lalu melewati Bale Endah tetapi di situ banjir dan kami melewati jalan lain. Kami pun melewati perkebunan teh, saat sudah lumayan dekat dengan Kampung Babakan Ranca.
Sesampainya di sana, kira-kira pukul 11.00 kami langsung turun dari angkot dengan badan kami yang pegal, dan agak mengantuk karena kami baru saja menempuh perjalanan selama tiga jam itu dan sangat melelahkan. Tetapi itu semua tidak menurunkan semangat kami, kami langsung berfoto-foto di depan gunung yang indah sekali di sana. Setelah itu, kami berjalan ke rumahnya Kang Uus, dan kami pun duduk-duduk di saung sebelah rumahnya Kang Uus.
Di sana kami disuguhi teh oleh anggota keluarga Kang Uus, lalu kami ngobrol-ngobrol sambil bersantai dan beristirahat. Setelah itu kami diberi surat berbahasa Sunda yang di dalam suratnya berisi tantangan untuk Nyaba Lembur itu. Setelah itu kami mau menuju ke rumah-rumah penduduk, tetapi hujan turun begitu deras, sehingga kami menunggu dulu sampai hujannya reda. Ternyata walaupun sudah lama menunggu, hujannya tidak reda juga, sehingga kami  memutuskan untuk menerobos hujan dengan bantuan payung dan jas hujan. Pertama, kakak mengantarkan kelompok rumah yang perempuan dulu ke rumah orang tua angkatnya masing-masing. Setelah itu barulah kelompok laki-laki yang diantarkan. Pertama-tama aku merasa kedinginan, serta kebingungan kita mau kemana, ini ada di mana, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya kurasakan bergantian lewat dibenakku. Tapi akhirnya kami, Tyo, Reza, dan Toby mendapatkan rumah di gang yang sempit dan Kak Koben pun berkata kepada ibu pemilik rumahku ini, “Hehehe… Punten nya bu nitip…” dan langsung pergi lagi ke rumah berikutnya.
Kami pun sampai di rumah tempat kami dititipkan kepada orang tua angkat kami. Ibunya berbadan besar dan agak gemuk karena ternyata ia sedang hamil. Rumahnya pun tidak terlalu besar, tapi di situ aku merasa lebih hangat, kami pun diajak duduk oleh sang pemilik rumah. Kami juga  mengajak ngobrol ibunya dengan masih agak malu kelihatannya, padahal itu karena kami bingung apalagi yang mau kami bicarakan. Aku pun yang celananya kebasahan memberanikan diri untuk meminta izin kepada ibunya untuk pergi ke toilet dan mengganti celanaku yang basah kuyup terkena air hujan. Kami juga mendapatkan informasi tentang namanya, yaitu Ibu Ai Dedeh dan suaminya Pak Ajang. Setelah itu Ibu Ai memasakkan kentang goreng untuk kami, dan kami makan kentang gorengnya, ternyata rasa kentangnya enak sekali. Tak lama kemudian kami disediakan makan siang dan kami makan bersama.
Kami pun pergi ke base camp. Di sana dibahas tentang tantangan untuk mengenali keluarga angkat masing-masing, mengenal tentang keluarga sekitar dan informasi tentang desa ini. Setelah itu kami semua kembali ke rumah masing-masing. Di rumah, kami menyampaikan pertanyaan-pertanyaan kepada ibunya dan mendapatkan informasi bahwa Pak Ajang, suaminya, bekerja di kebon sebagai kuli kebon. Anaknya tiga dan ia sedang hamil anak keempat. Anak pertama mereka seorang perempuan, bernama Yanti. Ia sudah menikah dan tinggal bersama suaminya di mess perkebunan. Anak kedua seorang laki-laki, kelas 1 SMP dan anak ketiga seorang perempuan, kelas 4 SD. Ibu Ai sudah tinggal di Babakan Ranca selama 12 tahun dan beberapa saudaranya juga tinggal di desa ini. Ibu Ai mempunyai 4 saudara kandung, 2 laki-laki dan 2 perempuan. Dulu Ibu Ai tinggal di kontrakan di perkebunan swasta. Usia Ibu Ai 36 tahun. Tetangga di sebelah kiri rumah Ibu Ai bernama bapak Ase. Tetangga di depan rumah Ibu Ai bernama Bapak Alm. Ustad Aang. Beliau meninggal dunia pada hari Selasa 29 Maret 2016, malam dan dimakamkan pada hari Rabu pagi. Kami pun mendapatkan informasi tentang desa ini yaitu dulunya bernama Kampung Sirna. Karena banyak penduduk yang menjadi sakit , akhirnya diganti namanya menjadi Babakan Ranca. Setelah itu kami ke rumah Fathan. Di sana kami bermain. Di situ aku sambil mencari informasi tentang ibu angkat Fathan. Aku mendapat informasi bahwa namanya Ibu Aei dan sudah 30 tahun tinggal di Babakan Ranca. Ibunya Ibu Aei sudah meninggal. Anaknya kembar. Dia juga punya kebon kol dan kentang.
Setelah selesai main kami terus ke base camp. Di base camp hasil kerja kami dibahas oleh kakak. Kakak  juga memberi tantangan untuk keesokan harinya. Setelah itu kami pulang ke rumah masing-masing untuk tidur. Perasaan ku sudah sangat capek dan mengantuk.
Keesokan paginya kami bangun pukul 04.00 pagi dan langsung mandi. Yang pertama mandi yaitu Oby, kemudian Eja dan terakhir aku. Ketika  kami selesai mandi Kak Koben, Kak Wienny dan Kak Steva datang ke rumah kami dan memberikan kertas untuk mengerjakan tantangan menggambar peta desa. Kami juga mendapat tantangan membuat KTP sementara dan mencari informasi tentang struktur desa. Ibu Ai memberi kami energen. Setelah minum energen tubuhku menjadi lebih hangat karena sebelumnya aku merasa dingin. Sebelum aku dan teman-teman mengerjakan tantangan dari Kakak, kami membantu Ibu Ai memberi makan ayam, mencuci piring dan membantu memasak. Setelah Ibu Ai selesai memasak sarapan, kami pun makan pagi bersama dengan tumisan sayur kol, kentang goreng dan mie goreng.
Sesudah makan, saya pergi menjemput Carenza dan Stefani di rumah Fey. Mereka sedang bermain di sana. Carenza dan Stefani adalah teman saya dalam kelompok kerja. Kami bertiga pergi berkeliling desa untuk menggambar denah desa. Tetapi aku merasa kebingungan untuk menggambarkannya di kertas, jadi aku hanya menggambarkan sketsanya saja. Sesudah itu aku pulang dan mulai merapikan sketsanya. Lalu Kak Koben menyarankan saya dan teman-teman yang lain untuk pergi ke sawah walaupun tidak bersama orang tua angkat kami. Akhirnya kami pun ke sawah. Di sawah kami harus berjalan di tanah yang berlumpur. Awalnya aku malas untuk kotor, tetapi lama-lama aku merasa seru. Saya pun membantu para petani membersihkan rumput liar dan menanam benih. Kami juga mengajak ngobrol beberapa petani. Saya merasakan ketika menanam benih ibunya ingin cepat-cepat dan agak keberatan dibantu. Aku juga dapat merasakan kakiku dingin dan sejuk saat menginjak lumpur yang terhalang sinar matahari. Aku juga merasakan keseruan saat aku melompati selokan dan jatuh terjengkang ke belakang. Aku tidak merasa sakit tetapi malah ikut tertawa ketika orang-orang di sawah tertawa karena lucu melihat bagaimana aku jatuh. Sesudah beberapa lama di sawah kami pun pulang dan mencuci kaki kami yang kotor karena lumpur.
Kegiatan kami berikutnya adalah membuat KTP sementara. Kali ini Carenza dan Stefani menjemput saya di rumah Ibu Ai. Kami pergi ke rumah Bapak RW bersama-sama dengan kelompoknya Grace. Nama Bapak RW nya adalah Bapak Aceng Suhara. Di rumah Pak Aceng kami masing-masing diberi blanko KTP sementara. Lalu kami diminta mengisi nama, tempat/tanggal lahir, domisili asal, domisili lokal dan tanda tangan pemohon pada blanko tersebut. Kemudian blanko KTP ditandatangani oleh Bapak RW. Setelah selesai, kami pun pulang ke rumah masing-masing.
Kemudian aku bertemu Arga dan kami pun pergi ke rumah Pak RT untuk mencari informasi dari tantangan berikutnya. Kami berkenalan dengan Pak RT, namanya Pak Jajang. Beliau memberi kami informasi tentang struktur pemerintahan Desa Babakan Ranca. Setelah selesai, kami mencoba mencari jalan tempat kami kemarin turun dari angkot. Ternyata kami tidak bisa menemukan tempatnya dan karena waktunya sudah mendekati waktu untuk kumpul di base camp, maka kami langsung menuju ke rumah Kang Uus. Lalu kakak mulai memeriksa tantangan-tantangan kami. Tak lama kemudian Kang Uus datang untuk ngobrol-ngobrol dan menyampaikan beberapa informasi kepada kami. Kang Uus mulai bercerita, bahwa Desa Babakan Ranca hanya mendapat jatah 1% tanah untuk kebun dan sawah rakyat, sedangkan yang terbanyak adalah tanah untuk perkebunan milik Perkebunan Teh, Perhutani, Lonsum. Kondisi ini menyebabkan Desa Babakan Ranca menjadi desa termiskin kedua di Kabupaten Bandung dan desa termiskin pertama di Kecamatan Kertajaya. Beliau juga menceritakan tentang daerah-daerah pinggiran di Indonesia yang kebanyakan masih tidak terurus oleh pemerintah. Kang Uus adalah anggota Komunitas IGW (Institut Gunung Wayang), yaitu komunitas yang memperhatikan keadaan daerah pinggiran, melakukan hal-hal yang bisa dibuat sendiri tanpa menunggu tindakan dari Pemerintah, seperti membuat pupuk dan bank sampah. Komunitas ini juga melakukan riset tentang keadaan alam daerah-daerah di Indonesia. Kang Uus juga menceritakan tentang banjir di Bandung. Bandung terletak di cekungan, sehingga kalau pepohonan di sekitar Bandung habis maka Bandung bisa tenggelam. Mendengar cerita dari Kang Uus kami menjadi kaget dan kesal serta prihatin dengan kondisi Bandung saat ini. Setelah mendengar cerita dari Kang Uus, kami diberi tugas oleh kakak yaitu mencatat pembicaraan Kang Uus tadi. Kemudian kami pulang ke rumah masing-masing untuk mengerjakan tugas tersebut.
Pukul 19.30 kami kembali berkumpul di base camp untuk membahas tugas yang sudah kami kerjakan. Di base camp aku mulai merasa mengantuk. Kakak mengatakan bahwa besok pagi pukul 05.30 kami semua akan memerah sapi. Setelah itu kami disuruh pulang dan packing untuk persiapan pulang besok, supaya besok pagi tidak kerepotan. Sesampainya di rumah aku packing dan langsung tidur.
Keesokan paginya kami bangun pukul 05.00 dan minum energen, lalu siap-siap berangkat ke base camp. Sesampainya di base camp hampir semua teman sudah datang, kecuali kelompok Fathan. Karena kelompok Fathan setelah ditunggu tidak datang juga, maka kami (Tyo, Oby dan Eja) memutuskan untuk menjemput kelompok Fathan. Sesampainya di rumah kelompok Fathan ternyata mereka bertiga masih tidur. Kami pun membangunkan mereka dan mereka dengan terkantuk-kantuk langsung berganti pakaian, mencuci muka dan langsung berangkat ke base camp. Setelah itu Kak Koben pergi ke rumah Pak Ubu, seorang peternak sapi, untuk melihat apakah Pak Ubu sudah siap untuk mengantar kami ke kandang sapinya. Tak lama kemudian Pak Ubu sampai di base camp dan bersama-sama kami berangkat menuju kandang sapinya. Di sana Pak Ubu memberi makan sapi-sapinya sebelum memerah susu sapinya. Pak Ubu mempunyai 3 ekor sapi, yaitu 2 ekor sapi betina yang masing-masing berusia 14 tahun dan 1 tahun, serta 1 ekor anak sapi berusia seminggu. Sapi Pak Ubu yang berusia 14 tahun sudah 13 kali melahirkan. Namun, karena kebutuhan dana terpaksa anak-anak sapi tersebut dijualnya. Sapi yang berusia 1 tahun saat ini sedang mengandung. Pak Ubu menjelaskan bahwa sapi bisa mulai mengandung setelah berusia 1 tahun. Lamanya sapi mengandung adalah 9 bulan. Sapi betina yang bisa diambil susunya adalah sapi-sapi yang sudah melahirkan dan sapi yang sedang mengandung tetapi sebelum usia kehamilan 6 bulan. Kemudian Pak Ubu juga menjelaskan tentang cara memerah susu sapi. Sebelum sapi diperah, ekornya harus diikat ke tiang, agar sapi tidak berontak. Sapi juga harus diberi makan sebelum susunya diperah. Sebelum memerah sapi, kita harus mencuci tangan supaya bersih. Setelah itu Pak Ubu menawarkan kepada kami untuk mencoba memerah susu sapi dan saya yang pertama mencoba memerah susu sapi. Menurut saya memerah susu sapi rasanya kenyal-kenyal dan lengket. Saya mengikuti cara yang diajarkan Pak Ubu dan saya berhasil mendapatkan susu sapi. Lalu teman-teman saya juga ikut mencoba memerah susu sapi.
Ketika kegiatan memerah sapi selesai kami pulang ke rumah masing-masing untuk mandi, makan, dan bersiap-siap untuk hiking. Setelah semua pekerjaan kami di rumah selesai, kami pun pergi lagi ke base camp tetapi ternyata di sana kakak-kakak masih sedang sarapan. Maka kami pun berkeliling-keliling desa sambil menunggu kakak-kakak siap. Setelah kami berkumpul di base camp, saya mewakili kelas Anjasmoro memberikan piagam penghargaan kepada Kang Uus dan mengucapkan terima kasih atas semua bantuan dan pelajaran yang telah diberikannya kepada kami selama Nyaba Lembur. Lalu kami berpamitan ke tiap rumah sambil mengambil tas masing-masing. Setelah itu kami berdoa dan langsung berangkat hiking.
 Kami pun mulai melakukan perjalanan hiking kami, kami berjalan melewati Kertasarie, lalu belok kiri menuju perkebunan teh dan istirahat di saung yang terletak di tengah kebun teh. Kami pun melanjutkan perjalanan kami menanjaki kebun teh itu, dan sampai di atas kami jalan lagi, menanjak atau pun berbelok kami lewati sampai akhirnya kami tiba di saung yang berada di puncak kaki Gunung Wayang itu. Kami juga berfoto-foto di sana. Baru setelah dari situ kami turun, turun, dan turun terus, aku pun sempat terjatuh-jatuh di sini. Kami pun akhirnya menemukan jalan raya yang menuju ke Danau Cisanti, dan akhirnya sampai di Cisanti dengan selamat. Sesampai di sana kami langsung membeli indomie di warung yang terletak di pinggiran danau itu. Kami pun hampir semuanya berenang di danau itu, kecuali Arga dan Raven. Setelah puas bermain air di danau,  akhirnya tiba waktunya bagi kami untuk pulang. Kami pun langsung berganti baju, dan bersiap untuk menempuh perjalanan pulang ke Bandung.
Kami pulang ke Bandung dengan naik angkot. Di angkot kami masih sempat saling bercanda, dan bercerita. Akhirnya kami sampai di Bandung dengan selamat. Kami sampai di Sekolah Semi Palar sekitar jam enam sore, lalu kami berkumpul di parkiran dan kakak juga memberikan tantangan untuk orang tua, yang berhubungan dengan kegiatan Nyaba Lembur tadi.
-T-A-M-A-T-

1 comment:

  1. Wah seru ya, Tyo. Pengalamannya mengesankan, moga2 bisa memberikan hikmah dan pelajaran ttg bagaimana kondisi hidup di pedesaan, yang begitu sederhana dan penuh perhatian antar sesama warganya. Untuk ke depannya akan lebih bagus bila journalnya dilengkapi juga dengan foto-foto, sehingga pembaca bisa ikut melihat kondisi yang sebenarnya. Ditunggu kisah2 pengalaman hidup selanjutnya ya!

    ReplyDelete