Thursday, 16 February 2017

Kolonialisme

Hai, kali ini aku akan berbagi tentang narasumber ku kemarin, yang bernama Kak Andi dan Kak Ivan Auliah.

Pertama-tama ia menjelaskan tentang motif  utama dari kolonialisme atau penjajahan oleh Belanda.adalah mencari dan menjual hasil bumi (dulu rempah-rempah) oleh VOC (Persekutuan Dagang Hindia Timur). Melalui Cultur Stel Sel atau tanam paksa merupakan salah satu cara Belanda untuk "menyedot" rempah-rempah yang ada di bumi Nusantara ini. Cultur Stel Sel adalah sistem tanam paksa yang dua per lima tanah warga dipatok untuk ditanami tanaman yang akan diekspor oleh Belanda.

Karena sikap kosmopolit (sikap membuka diri terhadap budaya/pengetahuan asing) dari bangsa Indonesia, maka Belanda dapat menyebarkan agama Kristen dan Katolik dengan mudah. Dari interaksi bangsa Belanda dengan Indonesia setiap harinya maka banyak juga arsitektur Belanda yang masuk dan bercampur dengan arsitektur lokal. Contohnya seperti bangunan-bangunan di daerah Braga dan juga arsitektur gereja yang terbawa dari Eropa (karena mayoritas agama bangsa Eropa adalah Kristen dan Katolik). Oleh karena pada abad ke-19  bangsa Eropa telah lebih dulu mengalami era gotik, yaitu era dimana trend arsitektur kubah sudah berganti, maka arsitektur pada bangunan-bangunan di Indonesia pun mengikutinya. Contohnya Gereja dan Mesjid menjadi tidak berkubah.

Ada juga pedagang dari negeri Cina yang mempengaruhi tradisi kuliner di Indonesia, seperti pangsit di Cina, yang oleh pribumi kalangan bawah menjadi batagor.
Pengaruh lainnya dari Cina yaitu batik yang menjadi lebih sederhana dan bisa dipakai oleh semua kalangan, tidak hanya kalangan atas saja.

Demikian ceritaku kali ini, terima kasih.

No comments:

Post a Comment